Minggu, 12 Juli 2015

Kebutuhan mobilitas dan imobilitas


Kebutuhan mobilitas dan imobilitas
A.     Pengertian mobilitas
Mobilitas yaitu kemampuan individu untuk bergerak secara bebas , mudah, dan teratur.
Tujuannya yaitu untuk memenuhi kebutuhan aktivitas, guna mempertahankan kesehatan.
Jenis mobilitas:
1.      Mobilitas penuh
Kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Mobilitas merupakan fungsi saraf motorik volunter dan sensorik untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang.
2.      Mobilitas sebagian
Kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan jelas atau tidak dapat bergerak secara bebas.
Mobilitas sebagian terbagi 2:
a.      Mobilitas sebagian temporer
Yaitu kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya sementara.
Contoh: adanya dislokasi sendi dan tulang
b.      Mobilitas sebagian permanen
Yaitu kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya menetap.
Contoh: terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang, poliomielitis karena terganggunya sistem saraf sensorik dan motorik.



Faktor yang mempengaruhi mobilitas:
1.      Gaya hidup
Gaya hidup berdampak pada perilaku atau kebiasaan sehari-hari.
2.      Proses penyakit/ cedera
Proses penyakit dapat mempengaruhi fungsi sistem tubuh.
Contoh: orang yang menderita fraktur femur akan mengalami keterbatasan pergerakan dalam ekstremitas bawah.
3.      Kebudayaan
Contoh: orang yang memiliki budaya sering berjalan jauh memiliki kemampuan mobilitas yang kuat. Dan sebaliknya ada orang yang mengalami gangguan mobilitas karena adat dan budaya tertentu dilarang untuk beraktivitas.
4.      Tingkat energi
Agar seseorang dapat melakukan mobilitas yang baik, dibutuhkan energi yang cukup.
5.      Usia dan status perkembangan
Kemampuan mobilitas pada tingkat usia memiliki perbedaan. Karena, kemampuan atau kematangan berfungsi sebagai alat gerak sejalan dengan perkembangan usia.

B.      Pengertian imobilitas
Imobilitas yaitu suatu keadaan dimana seseorang tidak dapat bergerak secara bebas.
Misalnya mengalami trauma tulang belakang , cedera otak berat, disertai fraktur pada ekstremitas dsb.
Jenis imobilitas:
1.      Imobilitas fisik
Yaitu pembatasan bergerak secara fisik yang bertujuan untuk mencegah terjadinya gangguan komplikasi pergerakan.
2.      Imobilitas intelektual
Yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami keterbatasan daya pikir.
Contoh: pasien yang mengalami kerusakan otak.
3.      Imobilitas emosional
Yaitu suatu keadaan dimana seseorang mengalami pembatasan secara emosional karena perubahan secara tiba-tiba dalam menyesuaikan diri.
Contoh: keadaan stres yang disebabkan karena bedah amputasi pada bagian anggota tubuh klien.
4.      Imobilitas sosial,
Yaitu keadaan individu yang mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial.
  • Perubahan sistem tubuh akibat imobilitas:
  • ·         Perubahan pada metabolisme tubuh
  • ·         Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
  • ·         Gangguan dalam kebutuhan nutrisi
  • ·         Gangguan fungsi gastrointestinal
  • ·         Perubahan sistem pernafasan
  • ·         Perubahan kardiovaskuler
  • ·         Perubahan sistem muskuloskeletal
  • ·         Perubahan kulit
  • ·         Perubahan eliminasi
  • ·         Dan perubahan perilaku




1.      Perubahan metabolisme
Perubahan metabolisme imobilitas dapat mengakibatkan proses anabolisme menurun dan meningkat. Proses imobilistas ini juga dapat menyebabkan penurunan urine dan peningkatan nitrogen.
Dampak perubahan metabolisme:
a.      Pengurangan jumlah metabolisme
b.      Atropi kelenjar
c.       Katabolisme protein
d.      Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
e.      Demineralisasi tulang
f.        Gangguan dalam mengubah zat gizi
g.      Dan gangguan gastrointestinal

2.      Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
·         Dapat mengakibatkan persediaan protein menurun dan konsentrasi protein serum berkurang, sehingga dapat mengganggu kebutuhan cairan tubuh.
·         Berkurangnya perpindahan cairan dari intravaskular ke interstinal dapat menyebabkan edema.
·         Dapat menyebabkan demineralisasi tulang akibat menurunnya aktivitas otot,

3.      Gangguan pengubahan zat gizi
Menurunnya pemasukan protein dan kalori dapat mengakibatkan pengubahan zat-zat makanan pada tingkat sel menurun, dimana sel tidak lagi menerima glukosa, asam amino, lemak, dan oksigen dalam jumlah yang cukup.

4.      Gangguan fungsi gastrointestinal
Disebabkan karena imobilitas dapat menurunkan hasil makanan yang dicerna. Sehingga penurunan jumlah masukan yang cukup dapat menyebabkan keluhan , seperti mual, perut kembung, dan nyeri lambung yang dapat menyebabkan gangguan proses eliminasi.

5.      Perubahan sistem pernafasan
Akibat imobilitas, kadar hemoglobin menurun, ekspansi menurun, dan terjadinya lemah otot dapat menyebabkan proses metabolisme terganggu.

6.      Perubahan kardivaskuler
Perubahan karidovaskuler dapat berupa:
a.      hipotensi ortostatik yang disebabkan menurunnya kemampuan saraf otonom.
b.      meningkatnya kerja jantung disebabkan karena imobilitas dengan posisi horizontal.
c.       terjadinya pembentukan trombus disebabkan oleh meningkatnya vena statis yang merupakan hasil penurunan kontraksi muskular sehingga meningkatkan arus balik vena.
7.      Perubahan muskuloskeletal
a.      Gangguan muskular
Menurunnya massa otot sebagai dampak imobilitas dapat menyebabkan turunnya kekuatan otot secara langsung.
Contoh: otot betis seseorang yang telah dirawat lebih dari enam minggu ukurannya akan lebih kecil. Selain menunjukkan tanda lemah atau lesu.
b.      Gangguan skeletal
Contohnya: mudah terjadinya kontraktur sendi dan osteoporosis.
Kontraktur yaitu kondisi yang abnormal dengan kriteria adanya refleksi dan fiksasi yang disebabkan atropi dan memendeknya otot.
Osteoporosis terjadi karena reabsorbsi tulang semakin besar, sehingga yang menyebabkan jumlah kalsium ke dalam darah menurun dan jumlah kalsium yang di keluarkan melalui urine semakin besar.





8.      Perubahan sistem integumen
Terjadi berupa penurunan elastisitas kulit karena menurunnya sirkulasi darah akibat imobilitas dan terjadinya iskemia, serta nekrosis jaringan superfisial dengan adanya luka dekubitus sebagai akibat tekanan kulit yang kuat dan sirkulasi yang menurun ke jaringan.

9.      Perubahan eliminasi
contoh: penurunan jumlah urine yang disebabkan oleh, kurangnya asupan dan penurunan curah jantung sehingga aliran darah renal dan urine berkurang.

10.   Perubahan perilaku
Seperti: timbulnya rasa bermusuhan, bingung, cemas, emosional tinggi, depresi perubahan siklus tidur, dan menurunnya koping mekanisme.
Selama proses imobilitas, seseorang akan mengalami perubahan peran, konsep diri, kecemasan, dll.














Kemutuhan Mekanika Tubuh dan ambulansi
Mekanika tubuh adalah usaha koordinasi dari musculoskeletal dan system syaraf untuk mempertahankan keseimbangan yg tepat. Mekanika tubuh dan ambulansi merupakan cara menggunakan tubuh secara efisien ,yaitu tidak banyak menegeluarkan tenaga,terkoordinasi,serta aman dalam menggerakan dan memepertahan kan keseimbangan selama aktifitas.

A.     Prinsip Mekanika tubuh 
Prinsip yang di gunakan dalam mekanika tubuh:
1.      Gravitasi : merupakan prinip pertama yang harus diperhatikan dalam melakukan mekanika tubuh dengan benar,yaitu memandang gravitasi sebagai sumbu dalam pergerakan tubuh. Tiga factor yang di perhatikan dalam gravitasi:
·         Pusat gravitasi (center of gravity),titik yag berada di pertengahan tubuh.
·         Garis gravitasi ( line of gravity),merupakan garis imaginer vertical melalui pusat gravitasi.
·         Dasar tumpuan ( base of support ),merupakan dasar tempat seseorang dalam posisi istirahat untuk menompang/menahan tubuh.
2.      Keseimbangan : keseimbangan dalam penggunaan mekanika tubuh di capai dengan cara  mempertahankan posisi garis grafitasi di antara pusat grafitasi dan dasar tumpuan.
3.      Berat: dalam menggunakan mekanika tubuh yang sangat di perhatikan adalah berat atau bobot benda yang akan di angkat Karena berat benda akan mempengaruhi mekanika tubuh.
B.      Pergerakan Dasar Dalam Mekanika Tubuh
Sebelum melakukan mekanika tubuh,terdapat beberapa pergerakan dasar yang harus di perhatikan , di antaranya :
·         Gerakan (ambulanting). Gerakan yang benar dapat membantu  mempertahankan keseimbangan tubuh. contoh : kesimbangan pada saat orang berdiri dan saat orang berjalan akan berbeda . orang yang berdiri akan lebih mudah stabil di banding dengan orang berjalan kaki,karena pada posisi berjalan terjadi perpindahan dasar tumpuan dari sisi satu ke sisi lain dan pusat grafitasai selaluu berubah pada posisi kaki. Pada saat berjalan terdapat dua fase , yaitu fase menahan berat dan mengayun , yang menghasilkan gerak lurus dan berirama.
·         Menahan ( squatting ). Dalam melakukan pergantian ; posisi menahan selalu berubah. Sebagai contoh, posisi orang yang duduk akan berbeda dengan orang jongkok . dan tentunya juga berbeda dengan posisi membungkuk. Grafitasi adalah hal yang harus di perhatikan untuk memberikan posisi yang tepat dala penahan. Dalam menahan sangat di perlukan dasar tumpuan yang tepat untuk mencegah kelainan tubuh dan memudahkan gerakan yang akan di lakukan.
·         Menarik ( pulling ). Menarik dengan benar akan memudahkan untuk memindahkan benda. Terdapat beberapa hal yang perlu di perhatikan sebelum menark benda,di antaranya ketinggian, letak benda ,posisi kaki dan tubuh dalam menari,sodorkan telapak tangan atas di bawah pusat grafitasi pasien,lengan atas dan siku di letakkan pada permukaan tempat tidur,pinggul lutut,dan pergelangan kaki di tekuk ,lalu lakukan penarikan.
·         Mengangkat( lifting ). Mengangkat merupakan cara pergerakan daya tarik gunakan otot-otot besar dari tumit, paha bagian atas, kaki bagian bawah perut, dan pinggul untuk mengurangi rasa sakit pada daerah tubuh bagian belakang.
·         Memutar ( pivoting ) memutar merupakan gerakan untuk memutar anggota tubuh dan bertumpu pada tulang belakang .gerakan memutar yang baik memperhatikan ketiga unsur grafitasi dalam pergerakan agar tidak member pengaruh buruk pada postur tubuh.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Mekanika Tubuh Dan Ambulansi

1.                                         Status kesehatan. Perubahan satus kesehatan dapat mempengaruhi system muskolosekeletal dan system saraf berupa penurunan koordinasi. Perubahan tersebut dapat di sebabkan oleh penyakit, berkurangnya kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari dan lain-lain.
2.                                      Nutrisi . salah satu fungsi nutrisi bagi tubuh adalah membantu proses pertumbuhan tulang dan perbaikan sel. Kekurangan nutrisi bagi tubuh dapat memyebabkan kelemahan otot dan memudahkan terjadinya penyakit. Sebagai contoh : tubuh yang kekurangan kalsium akan lebih mudh mengalami fraktur.
3.                                        Emosi . kondisi psikologis seseorang dpat memudahkan perubahan prilaku yang dapat menurunkan kemampuan mekanika tubuh dan ambulansi yang baik. Seseorng yang mengalami perasaan tidak aman , tidak bersemangat dan harga diri yang rendah, akan mudah mengalami perubahan dalam mekanika tubuh dan ambulansi.
4.                                            Situasi dan kebiasaan. Situasi dan kebiasaan yang di lakukan seseorang misalnya sering mengangkat benda-benda berat ,akan menyebabkan perubahan mekanika tubuh dan ambulansi.
5.      Gaya hidup. Perubahan pola hidup dapat menyebabkan stress dan kemungkinan besar akan menimbulkan kecerobohan dalam berakifitas,sehingga dapat mengganggu koordinasi antara system muskulosekeletal dan neurologi,yang akhirinya akan mengakibatkan perubahan mekanika tubuh.
6.      Pengetahuan . pengetahuan yang baik terhadap penggunaan mekanika tubuh akan mendorong seseorang untuk menggunakannya dengan benar , sehingga mengurangi tenaga yang di keluarkan. Sebaliknya , pengetahuan yang kurang memadai dalam penggunaan mekanika tubuh akan menjadikan seseorang berisiko mengalami gangguan koordinasi system neurologi dan musculoskeletal.


Dampak Mekanika Tubuh Dan Ambulance

Penggunaan mekanika tubuh secara benar dapat mengurangi pengeluaran energy secara berlebihan. Dapak yang ddapat di timbulkan dari penggunaan mekanika tubuh yang salah adalah sebagai berikut:
1.      Terjadi ketegangan sehingga memudahkan timbulnya kelelahan dan gangguan dalam system muskulosekeletal.
2.      Resiko terjadinya kecelakaan pada system muskulosekeletal. Seseorang salah dalam berjongkok atau berdiri, maka akan memudahkan terjadinya gangguan dalam struktur muskulosekeletal . misalya kelainan pada tulang vertebra.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar