Kamis, 06 Agustus 2015

IKTERUS/JAUNDICE PADA NEONATUS

IKTERUS/JAUNDICE PADA NEONATUS

A.     DEFINISI

Ikterus adalah menguningnya sklera, kulit atau jaringan lain akibat penimbunan bilirubin dalam tubuh ( IKA UI, 2002)
Ikterus adalah penimbunan pigmen empedu dalam tubuh yang menyebabkan warna kuning pada jaringan ( SylviaA Price, 1994)
Ikterus terkait dengan hiperbilirubinemia. Hiperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang mempunya potensi menimbulkan “kern ukterus” kalau tidak ditanggulangi dengan baik.

B.     KLASIFIKASI

1.      Fisiologis
Ciri – ciri bayi ikterus yang fisiologis adalah :
a.       Timbul pada hari kedua dan ketiga
b.      Kadar bilirubin indirek sesudah 2x24 jamtidak melewat 15mg% pada neonatus cukup bulan dan 10mg% pada neonatus kurang bulan
c.       Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5mg% perhari
d.      Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1mg%
e.       Ikterus menghilang pada 10 hari pertama
f.       Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadaan patologik
      Pebedaan utama metabolisme bilirubin pada janin dan neonatus adalah bahwa pada janin hepar belum banyak berfungsi, karena bilirubin dikeluarkan oleh janin melalui plasenta dalam bentuk bilirubin indirek.
Produksi
      Sebagian besar bilirubin terbentuk sebagai akibat degradasi heme dalam RES. Biasanya pada neonatus tingkat penghancuran Hb lebih tinggi. Bilirubion indirek bersifat tidak larut dalam air, dan tidak bereaksi langsung dengan zat warna diazo.
Transportasi
      Bilirubin indirek diikat oleh albumin ke hepar yng dilakukan oleh protein Y dan Z
Konjugasi
      Di dalam hepar bilirubin mengalami konjugasi yang memerlukan energi dan enzim glukoronil transferase dengan bantuan asam glukoronida terjadi peristiwa enzimatis.glukosa sangat penting untuk diekskresi bilirubin karena proses konjugasi sangat melibatkan metabolisme karbohidrat dan nukleotida. Bilirubin ini kemudian menjadi bilirubin direk. Sifat bilirubin direk ini dapat larut dalam air hingga jika dalam keadaaan berlebihan bilirubin ini diekskresikan kedalam urine
Ekskresi
      Billirubin direk kemudian diekskresikan ke dalam usus dan sebagian dikeluarkan dalam bentuk bilirubin dan sterkobilin. Bilirubin ini kemudian diangkut ke hepar yang kemudian siklus ini disebut “siklus enterohepatik”. Pada janin sebagian bilirubin itu diserap kembali dan diekskresi melalui plasenta. Pada BBl ekskresi  ini terputus. Pada janin apabila fungsi hepar belum matang atau terdapat gangguan akibat hipoksia, asidosis, atau kekurangan nzim glukoronil transferase maupun glukosa maka kadar bilirubin indirek dalam darah menjadi tinggi.
      Bilirubin indirek yang terikat pada albumin sangat tergantung pada kadar albumin dalam serum. Pada bayi kurang bulan dimana kadar albuminnya rendah, mengakibatkan kadar bilirubin indirek yang bebas meningkat. Peningkatan ini berbahaya karena bilirubin bbas dapat melekat pada sel-sel otak. Inilah yang menjadi dasar pencegahan kern ikterus dengan pemberian alabumin atau plasma. Kadar bilirubin indirek normal adalah 20 gr%

2.       Patologis
Berdasarkan etiologinya terbagi atas ;
§  Peningkatan kadar bilirubin atau produksi yang berlebihan.
Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengluarkannya misal : pada hemolisis yang meningkat pada inkompatibilitas darah Rh, ABO, defisiensi enzim G6PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis
§  Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar.
Gangguan ini disebabkan oleh imaturitas hepar, kurangnya substrat untuk konjugasi bilirubin, gangguan funsi hepar akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase, albumin berkurang. Penyebab lain adalah defisiensi protein dalam hepar yang berperan dalam uptake bilirubin ke sel hepar
§  Gangguan transportasi
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian di angkut ke hepar. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapat bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak
§  Gangguan dalam ekskresi
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar hepar. Kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan sedangkan obstruksi dalam hepar disebabkan oleh infeksi atau kerusakan hepar
Klasifikasi berdasarkan mekanisme terjadinya ada 3, yaitu ;
1)      Ikterus pre-hepatik
Disebabkan oleh pemecahan sel eritrosit ( hemolisis ) yang berlebihan, akibatnya bilirubin indirek akan meningkat sehingga bilirubin direk juga meningkat dan akan diekskresikan ke dalam saluran cerna sehingga kadar urobilinogen meningkat dalam tinja.
Peningkatan pemecahan eritrosit disebabkan oleh :
  1. Kelainan pada sel darah merah
  2. Infeksi seperti malaria, sepsis dll
  3. Toksin yang berasal dari luar tubuh seperti obat-obatan maupun yang berasal dari dalam tubuh seperti reaksi transfusi dan eritoblastosis fetalis
2)      Ikterus hepatik
Terjadi karena kelainan / penyakit/ fungsi hati dimana kerusakan sel hati akan menyebabkan konjugasi bilirubin terganggu sehingga bilirubin direk akan meningkat
Kerusakan sel hati terjadi pada keadaan ;
  1. Hepatitis oleh virus, bakteri, parasit
  2. Sirosis hepatis
  3. Tumor
  4. Bahan kimia seperti fosfor dan arsen
3)      Ikterus post-hepatik
Terjadi karena adanya penyumbatan (oleh batu atau tumor) pada saluran keluar empedu sehingga bilirubin idak dapat keluar dan kembali lagi ke atas masuk ke sirkkulasi seperti ; atresia biliaris, ekstra hepatika, kista duktus koledukus, kelainan-kelainan pada duodenim dan pankreas yang menghalangi pengeluaran bilirubin





WEB OF CAUSATION (WOC)

Mk : Oksigenisasi
 
Mk : Dehitrasi
 
Mk : Nutrisi
 
Mk : Injuri
 
 














































C.    MANIFESTASI KLINIS
Ikterus pada beberapa bagian tubuh, penampilan klinis dari ikterik akan tampak jelas jika kadar bilirubin >7-8 mg/dl pada bayi yang cukup bulan.
Perkiraan derajat ikterik adalah sbb ;
a.       Ikterik yang terdapat pada kepala dan jari-jari kaki, kadar bilirubinnya 4-8 mg/dl
b.      Ikterik pada batang ubuh 5-12 mg/dl
c.       ikterik pada lipat paha 8-16 mg/dl
d.      Ikterik pada tangan atau kaki 15-29 mg/dl
Bilirubin direk ditandai dengan kuning kulit, kehijauan dan keruh pada ikterus berat, bilirubin indirek ditandai dengan kulit kuning terang atau orange paa ikterus berat bayi menjadi lesu dan malas minum. Jika terjadi kernic ikterus akan timbul gejala mata yang berputar-putar, letargi, kejang, tidak mau menghisap, tonus otot meninggi, leher kaku dan epistotonus
Ikterus yang kemungkinan besar menjadi patologis adalah ;
a.       Ikterus yang  terjadi pada 24 jam pertama
b.      Ikterus dengan kadar bilirubin melebihi 12,5 mg % pada neonatus cukup bulan dan 10 mg % pada neonatus kurang bulan
c.       Ikterus dengan peningkatan bilirubun lebuih dari 5 mg % / hari
d.      Ikterus yang menetap setelah 2 minggu pertama
e.       Ikterus yang mempunyai hubungan dengan proses hemolitik, infeksi atau keadaaan patologis lain yang telah diketahui
f.       Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg %
D.     PENATALAKSANAAN
1.      Mempercepat proses konjugasi, misal pemberian fenobarbital yang berperan sebagai enzim inducer sehingga konjugasi dapat dipercepat
2.      Memberikan substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi, contoh pemberian albumin untuk mengukat bilirubin yang bebas
3.      Melakukan dekompensasi bilirubin dengan fototherapy, penyinaran sifatnya mengubah bilirubin menjadi bentuk dypirde yang tidak toksik dan dapat dikeluarkan dengan sempurna melalui ginjal dan traktus digestuvus. 
4.      Transfusi tukar, umumnya transfusi tukar dilakukan dengan indikasi sebagai berikut ;
Ø  pada semua keadaan dengan kadar bilirubin indirek < 20 mg %
Ø  kenaikan kadar bilirubin indirek yang cepat yaitu 0,3-1 mg %/jam
Ø  anemia yang berat pada neonatus dengan gejala gagal jantung
Ø  bayi dengan kadar hemoglobin tali pusat < 14 mg %
 


ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN IKTERIK


I.        PENGKAJIAN

Aktivitas / istirahat

Letargi atau malas

Sirkulasi

Mungkin pucat, menandakan anemia.
Eliminasi
Bising usus hipoaktif. Pasase mekonium mungkin lambat. Feses mungkin lunak atau coklat kehijauan selama pengeluaran bilirubin. Urin gelap pekat, hitam kecoklatan ( sindrom bayi Brownze)
Makanan dan cairan
Riwayat kelambatan atau makan oral buruk, lebih mungkin disusui daripada menyusu botol. Palpasi abdomen dapat menunjukkan pembesaran limpa dan hepar
Neurosensori
Cephalohematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang parietal yang b. d trauma kelahiran atau kelahiran ekstraksi vakum. Edema umum, hepato-splenomegali atau hidropsvetalis mungkin ada dengan inkompabilitas berat. Kehilangan reflek moro. Epistotonus dengan kekakuan lengkung punggung, fontanel menonjol, menangis sendiri, aktivitas kejang
Pernafasan
Riwayat asfiksia, krekels, mukus bercak merah muda ( edema plural, hemoragi pulmonal)
Keamanan
Riwayat positif infeksi / sepsis neonatus. Dapat mengalami ekimosis berlebihan, ptekie, perdarahan intrakranial. Dapat terlihat ikterik pada awalnya pada wajah dan berlanjut pada distal tubuh, kulit hitam kecoklatan sebagai efek samping fototherapy
Seksualitas
Mungkin preterm, bayi kecil untuk usia gestasi (SGA), bayi dengan retardasi pertumbuhan intrauterus (IUGR), bayi besar untuk usia gestasi (LGA), seperti bayi dengan ibu DM. terjadi lebih sring pada pria daripada wanita
Pemeriksaan diagnostik
·         Golongan darah bayi dan ibu ; mengidentifikasi inkompatibilitas ABO
·         Bilirubin total ; kadar direk bermakna jika > 1-1,5 mg/dl, kadar indirek tidak lebih dari 20 mg/dl pada bayi cukup bulan atau 15 mg/dl pada bayi preterm
·         Protein serum total ; kadar kurang dari 3 g/dl menandakan penurunan kapasitas ikatan terutama pada bayi preterm
·         Hitung darah lengkap ; Hb mungkin kurang dari 14 gr/dl karena hemolisis, Ht mungkin besar dari 65% karena polisitemia, kurang dari 45% dengan hemolisis dan anemia berlebihan
·         Glukosa ; glukosa darah lengkap < 30 mg/dl atau tes glukosa serum < 40 mg/dl bila BBL hipoglikemia
II.     DIAGNOSA
1.      Resiko kekurangan volume cairan b.d efek fototherapy
2.      resiko kerusakan integritas kulit b.d efek fototherapy
3.      Resiko termoregulasi tidak efektif b.d efek fototherapy
4.      Resiko tinggi terhadap cedera b.d prematuritas, penyakit hemolitik, asfiksia, asidosis, hipoproteinemia dan hipoglikemia
5.      Resiko tinggi kecacatan b.d ikterus yang meningkat dan beredar keseluruh tubuh
III. INTERVENSI
Resiko tinggi terhadap cedera b.d prematuritas, penyakit hemolitik, asfiksia, asidosis, hipoproteinemia dan hipoglikemia
Tujuan : - menunjukkan kaar bilirubin indirek  dibawah 12mg/dl pada bayi cukup bulan pada               usia 3 hari
-          Resolusi ikterik pada akhir minggu pertama kehidupan
-          Bebas dari keterlibatan ssp


TINDAKAN / INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri
Perhatikan kelompok dan golongan darah ibu atau bayi

Tinjau catatan intrapartum seperti BBLR, IUGR, premature, sepsis, sirkulasi abnormal dll


Pertahankan bayi tetap hangat dan kering ; pantau suhu kulit dengan sering


Mulai pemberian makan oral awal dalam 4-6jam awal kelahiran khususnya bila bayi diberi ASI. Kaji bayi terhadap tanda-tanda hipoglikemia
Perhatikan usia bayi pada saat terjadinya ikterik, bedakan tipe ikterik
Evaluasi bayi tehadap pucat, edema atau hepatomegali


Kolaborasi
Pantau pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi ; bilirubin direk dan indirek

Protein serum total


Hentikan menyusui bayi selama 24-48 jam sesuai indikasi. Bantu ibu sesuai kebutuhan dengan pemompaan payudara dan memulai lagi menyusui

Inkomptabilitas ABO mempengaruhi 20% dari semua kehamilan dan paling umum terjadi pada ibu dengan golongan darah O
Kondisi klinis tertentu dapat menyebabkan pemnalikan barier darah otak, memungkinkan ikatan bilirubin terpisah pada tingkat membran sel, meningkatkan resiko terhadap keterlibatan ssp
Stres dingin berpotensi melepaskan asam lemak, yang bersaing pada sisi ikatan pada albumin, sehingga meningkatkan kadar bilirubin yang bersirkulasi dengan bebas
Hipoglikemia memerlukan penggunaan simpanan lemak untuk asam lemak melepas energi yang bersaing dengan bilirubin untuk bagian ikatan pada albumin
Memudahkan intervensi

Tanda-tanda ini mungkin berhubungan hidropvetalis, inkompabilitas Rh dan pada hemolisis uterus


Peningkatan kadar bilirubion indirek 18-20 mg/dl pada bayi cukup bulan, atau > 13-15 mg/dl pada bayi preterm
Kadar rendah protein serum (< 3,0 gr/dl) menandakan penurunan kapasitas ikatan terhadap bilirubin
Mencerna formula ASI, meningkatkan motilitas GIT dan ekskresi feses serta pigmen empdu juga kadar bilirubin serum



I.        IMPLEMENTASI
Setelah perawat melakukan pengkajian, penentuan diagnosa dan penyusunan intervensi perawat bisa langsung melaksanakan intervensi yang disusunnya dan didokumentasikan
II.     EVALUASI
Untuk mengetahui apakah tujuan dan kriteria hasil yang kita inginkan sudah tercapai sehingga masalah yang ada dapat diatasi, dan menilai apakah implementasi yang kita lakukan sudah ideal, atau perlu menuju tahap lanjut.